TEORETISI PSIKOANALISA

|

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Psikoanalisis memiliki tiga penerapan:
1) suatu metoda penelitian dari pikiran;
2) suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia; dan
3) suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.
Dalam cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20 orientasi teoretis yang mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental manusia dan perkembangan manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang disebut "psikoanalitis" berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang juga beragam. Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis juga merujuk pada metoda penelitian terhadap perkembangan anak.


Psikonaliasis disebut-sebut sebagai kekuatan pertama dalam aliran psikologi. Aliran ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an oleh Sigmund Freud seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis, yang dia pelajari dari senior sekaligus sahabatnya, Dr. Josef Breuer. Bersama-sama dengan Breuer, Freud menangani pasien-pasien dengan gangguan histeria yang menjadi bahan bagi tulisannya, :”Studies in Histeria”. Kerjasamanya dengan Jean Martin Charcot, dokter syaraf terkenal di Perancis, dia banyak menggali tentang gejala-gejala psikosomatik dari pasien-pasien yang mengalami gangguan seksual
Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu : consciousness (alam sadar), preconsciousness (ambang sadar) dan unconsciousness (alam bawah sadar). Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas. Freud mengembangkan konsep struktur mind tersebut dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, seperti : identifikasi, proyeksi, fiksasi, agesi regresi, represi.
Pemikiran Psikoanalisis dari Freud semakin terus berkembang, Alfred Adler (1870-1937), sebagai pengikut Freud yang berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut dengan Individual Psychology. Konsep utama Adler adalah organ inferiority. Berangkat dari teorinya tentang adanya inferiority karena kekurangan fisik yang berusaha diatasi manusia, ia memperluas teorinya dengan menyatakan bahwa perasaan inferior adalah universal. Setiap manusia pasti punya perasaan inferior karena kekurangannya dan berusaha melakukan kompensasi atas perasaan ini. Kompensasi ini bisa dalam bentuk menyesuaikan diri ataupun membentuk pertahanan yang memungkinkannya mengatasi kelemahan tersebut. Selanjutnya, Adler juga membahas tentang striving for superiority, yaitu dorongan untuk mengatasi inferiority dengan mencapai keunggulan. Dorongan ini sifatnya bawaan dan merupakan daya penggerak yang kuat bagi individu sepanjang hidupnya. Adanya striving for superiority menyebabkan manusia selalu berkembang ke arah kesempurnaan. Teorinya ini yang membuat Adler memiliki pandangan lebih optimis dan positif terhadap manusia serta lebih berorientasi ke masa depan dibandingkan Freud yang lebih berorientasi ke masa lalu.
Carl Gustav Jung (1875-1961), salah seorang murid Freud yang kemudian berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut Analytical Psychology. Jung menekankan pada aspek ketidakadaran dengan konsep utamanya, collective unconscious. Konsep ini sifatnya transpersonal, ada pada seluruh manusia. Hal ini dapat dibuktikan melalui struktur otak manusia yang tidak berubah. Collective unconscious terdiri dari jejak ingatan yang diturunkan dari generasi terdahulu, cakupannya sampai pada masa pra-manusia. Misalnya, cinta pada orangtua, takut pada binatang buas,dan lain-lain. Collective unconscious ini menjadi dasar kepribadian manusia karena didalamnya terkandung nilai dan kebijaksanaan yang dianut manusia. Ide-ide yang diturunkan atau primordial images disebut sebagai archetype, yang terbentuk dari pengalaman yang berulang dalam kurun waktu yang lama. Ada beberapa archetype mendasar pada manusia, yaitu persona, anima, shadow, self. Archetype inilah yang menjadi isi collective unconsciousness.
Melanie Klien (1882-1960), dianggap sebagai ibu dari teori relasi objek dan Freud adalah ayahnya. Teori Relasi Objektif adalah turunan langsung teori instingtif Freud namun, berbeda dari moyangnya minimal dalam tiga hal: Pertama, teori objek klien tidak begitu menekankan dorongan-dorongan berbasis biologis karena lebih mementingkan konsistensi pola-pola hubungan antar pribadi. Kedua, Berbeda dari teori Freud yang paternalistik yang menekankan kuasa dan kontrol ayah, teori relasi objek Klien lebih bersifat Materialistik, menekankan hubungan intim dan pengasuhan ibu. Ketiga, teori relasi Klien umumnya melihat hubungan dan keterkaitan antarmanusia – bukannya kesenangan seksual, sebagai motif utama perilaku manusia.
Teori-teori relasi objek berasumsi bahwa hubungan ibu dan anak selama 4 atau 5 bulan pertama adalah waktu yang paling kritis bagi perkembangan kepribadian. Klien percaya bahwa bagian paling terpenting dari hubungan apa pun adalah reprentasi psikis internal objek-onjek signifikasi paling dini seperti buah dada ibu atau penis ayah
Namun begitu, yang lebih spesifik lagi teori relasi objek banyak mengalami pertumbuhan insight karena dikembangkan banyak teoretisi relasi objek lainnya seperti; Margaret Mahler yang secara umum menyoroti perjuangan bayi untuk memperoleh otonomi dan rasa kedirian. Hein Kohut yaitu menyoroti kedirian tersebut. Karya John Bowbly menyoroti tahap-tahap kecemasan bayi terhadap perpisahan dari ibu atau pengasuhnya. Dan karya Mary Ainsworth menyoroti kepada tipe-tipe kemelekatan bayi kepada ibu atau pengasuhnya.
Karen Horney menjelaskan bahwa pengaruh sosial dan budaya lebih penting daripada pengaruh biologis. Dibuktikan seperti anak-anak yang kurang rasa kasih sayang dan kehangatan akan gagal dalam memenuhi kebutuhan mereka akan rasa aman dan rasa puas. Perasaan terisolasi dan rasa tak berdaya ini memicu kecemasan dasar, yaitu rasa perasaan teriosalasi dan rasa tak berdaya dalam dunia yang dipenuhi potensi kebencian.
Ketidakmampuan manusia menggunakan taktik yang berbeda dalam hubungan mereka dengan orang lain membangkitkan konflik dasar: yaitu, kecenderungan yang tidak cocok untuk bergerak menuju, melawan, dan menjauh dari orang lain. Horney menyebutkan kecenderungan-kecenderungan untuk bergerak bergerak menuju, melawan atau menjauh dari orang lain sebagai tiga kecenderungan neuritik. Manusia yang sehat memecahkan konflik dasar mereka denagn menggunakan ketiga kecenderungan neoritik secara fleksibel, sementara penderita neorotik hanya menggunakannya saja secara kompulsif.
Baik manusia yang sehat maupun neuritik mengalami konflik intrapsikis yang menjadi bagian dari sistem kepercayaan mereka. Dua konflik intrapsikis yang menjadi bagian dari sistem kepercayaan mereka. Dua konflik utama adalah gambaran diri yang diidealkan ( upaya-upaya neuritik untuk membangun gambaran diri yang mirip Tuhan) dan kebencian pada diri sendiri (kecenderungan penderita neuritik untuk membenci dan melecehkan jati dirinya yang nyata). Tujuan psikoterapi Horneyian adalah membawa pertumbuhan menuju aktualisasi diri yang nyata.
Erick Fromm, terkenal dengan teori Psikoanalisis Humanistiknya. Fromm berasumsi bahwa manusia sudah tercabut dari kesatuan prasejarah mereka dengan alam dan juga dengan sesamanya satu sama lain, tetapi mereka memiliki kekuatan penalaran, pemrediksian, dan imajinasi.
Kesadaran diri memberikan kontribusi bagi perasaan kesendirian, keterkucilan dan ketidakberumahan. Untuk lari dari perasaan-perasaan ini, manusia berusaha menyatu lagi dengan orang lain dan dengan alam. Hanya kebutuhan yang khas manusiawi, keterhubungan, transendesi, keberakaran,rasa identitas, dan kerangka orientasi yang dapat menggerakan manusia menuju penyatuan kembali dengan dunia alamiah.
Perasaan keterhubungan mendorong manusia untuk mnyatu dengan orang lain lewat ketundukan, kekuasaan dan cinta. Transendensi adalah kebutuhan manusia untuk naik mengatasi eksistensi pasif mereka dengan mnciptakan atau menghancurkan kehidupan. Keberakaran adalah kebutuhan bagi sebuah struktur yang konsisten dalam hidup manusia. Rasa identitas memberikan seseorang perasaan”aku” (I, Subjek) atau ”saya” (me, objek). Kerangka orientasi adalah cara yang konsisten menatap dunia. Sedangkan kecemasan dasar adalah perasaan menjadi sendirian di dunia. Untuk lepas dari kecemasan dasar, manusia menggunakan beragam mekanisme pelarian, khususnya otoritarisme, destruktivitas, dan konformitas.
Manusia yang sehat secara psikologis mencapai sindrom pertumbuhan, yang mencangkup:
1. kebebasan positif, atau aktivitas spontan dari kepribadian yang menyeluruh atau terintegrasi
2. biofilia, atau cinta yang menggebu-gebu pada kehidupan
3. cinta pada sesama manusia
Namun begitu ada juga orang-orang tertentu yang hidup secara tidak produktif dan mencapai hal-hal dengan menerima secara pasif segala sesuatunya, mengekspolitasi orang lain, menimbun hal-hal, dan memasarkan atau menukarkan apapun termasuk dirinya.
Beberapa maausia yang secara ekstrem sakit dimotivasikan oleh sindrom kemerosotan, yang mencakup;
1. nekrofilia atau cinta pada hal-hal yang berbau kematian
2. narsisme sadistik atau terobsesi dengan diri sendiri dan
3. simbiosis inestik atau kecenderungan untuk tetap terikat kepada pribadi inang” pengasuhnya atau figur yang ekyuvalen dengan dirinya.
Tujuan psikoterapi Fromm adalah untuk membangun kesatuan dengan pasien sehingga mereka dapat menjadi menyatu kembali dengan dunia nyata.
Harry Stack Sullivan ( teori interpresonal), manusia mengembangkan kepribadiannya melelui hubungan-hubungan antarpribadi. Pengalaman berlangsung selama tiga tingkatan protaktonis ( primitif, prasimbolik ), parataksis (dapat dikomunikasikan namun tidak secara akurat), dan sintaksis (komunikasi yang akurat).
Dua aspek pengalaman adalah tegangan-tegangan (potensi untuk bertindak) dan tranformasi-tranformasi energi (tindakan-tindakan atau perilaku). Tegangan terdiri atas dua jenis yaitu kebutuhan dan kecemasan. Kebutuhan bersifat konjungtif, yaitu memfasilitasi perkembangan hubungan antar pribadi. Sedangkan kecemasan bersifat disjungtif, yaitu menghalangi pemuasan kebutuhan dan cara pandang membangun hubungan antar pribadi yang sehat.
Transformasi energi menjadi terorganisasikan menjadi karakter atau pola perilaku yang konsisten yang disebut berbagai dinamisme. Berbagai dinamisme tipoikal mencakup rasa dendam (perasaan hidup di negeri mungsuh), keintiman (hubungan antar pribadi yang karib dengan rekan yang setara stasusnya), dan napsu (hasrat-hasrat seksual interpresonal)
Kontribusi utama Sullivan adalah konsepnya tentang beragam tahap perkembangan. Tahap perkembangan pertama adalah masa bayi (dari lahir sampai perkembangan bahasa sintaksis), sebuah periode ketika hubungan antarpribadi utama bayi adalah dengan ibu pengasuhnya. Tahap kedua, selama masa kanak-kanak (dari bahasa sintaksis menuju kebutuhan akan teman bermain yang setara statusnya), ibu terus menjadi hubungan antar pribadi yang paling penting, meskipun anak diperiode ini mulai memiliki teman bermain imajinier. Tahap ketiga adalah masa anak muda (dari kebutuhan akan teman bermain berstatus setara sampai pengembangan keintiman), sebuah periode ketika anak harus belajar kompetisi, kompromi, dan kerja sama,kemampuan-kemampuan yang akan memampukan mereka untuk berhasil menyiapkan diri menuju tahap perkembangan berikutnya.
Tahap yang paling krusial adalah pra-remaja (dari keintiman dari keintiman dengan seorang teman karib sampai permulaan puberitas). Kekeliruan-kekeliruan yang dibuat selama fase ini sulit diatasi di fase-fase berikutnya. Selama masa remaja awal, anak-anak muda dimotivasikan oleh keintiman (biasanya pada seseorang yang berjenis kelamin sama) dan nafsu (terhadap pribadi yang berbeda jenis kelaminnya). Manusia mencapai masa remaja akhir ketika mereka sanggup mengarahkan keintiman dan napsu mereka terhadap seorang pribadi. Keberhasilan menyelesaikan masa remaja akhir memuncak pada masa dewasa, sebuah tahapan yaang ditandai oleh hubungan cinta yang stabil
Dengan menggunakan psikoterapi Sullivanian, terapis berfungsi sebagai pengamat partisipan berfungsi sebaagai pengamat partisipan dan berusaha memperbaiki hubungan-hubungan antarpribadi pasien.
Erik Erikson (Teori Post Freudian), tahap-tahap perkembangan erikson terletak diatas prinsip epigenetik, yang berarti bahwa setiap komponen bergerak selangkah demi selangkah yang sesuai dengan bangunan berikutnya di tahap perkembangan sebelumnya. Disetiap tahap, manusia mengalami sebuah interaksi dari sikap-sikap sintonik dan distonik yang berlawanan yang mengarah pada konflik atau krisis psikoseksual. Resolusi bagi krisis ini menghasilkan kekuatan dasar dan kemampuan seseorang untuk bergerak ke tahap berikutnya.
Erikson berpendapat komponen-komponen biologis membentuk cetak dasar (blue-print) bagi setiap individu, tetapi multilisitas peristiwa-peristiwa historis dan kultural turut membentuk identitas ego.
Erikson menggunakan metode psikosejarah (kombinasi psikoanalisis dan sejarah) untuk mempelajari krisis-krisis identitas Martin Luther, Mahatma Gandhi, dan tokoh-tokoh besar lainnya.


Daftar Pustaka

- Feist, Jess, J.Feist, Geogery (2008). Theory of Personality (edisi keenam). Jogjakarta : Penerbit Pustaka Pelajar

- Hana Panggabean, 2007, h ttp://rumahbelajarpsikologi.com
- Wikipedia. 2007. Psychoanalysis. http://en.wikipedia.org/

Catatan Kuliah

|

maap ya.. Sobat-sobat IC ARtikel ini ,belum kita Posting.....


Behaviorisme dari Skinner

|


Ketika Burrhus Frederick Skinner (1904-1990) menerbitkan buku pertamanya, The Behaviour of Organisms (1938), hanya sedikit yang terjual. Bukunya yang palling laris adalah Science and Human Behaviour (1953)....
Manusia adalah mesin, seperti mesin lainnya, manusia bertindak dengan cara yang teratur dan dapat diramalkan sebagai responsnya terhadap tekanan dari luar.
Kebalikan dari Pavlov, yang mempelajari pengondisian klasik gerak refleks, Skinner mempelajari gerak nonrefleks atau tingkah laku disengaja

Pengondisian Operan
Skinner menemukan “Aparat Pengondisian Operan” (“dijuluki kotak skinner”oleh hull 1933). Percobaannya : tikkus lapar dimasukkan kedalam kotak, cepat atau lambat tikus tersebut secara tidak sengaja menekan tuas.
1. Pada awalnya tidak ada pil makanan yang diberikan ( sebagai panduan dalam mengamati - disebut kondisi kendali)
2. Kemudian dihubungkan dengan alat pemberi makanan

Setiap kali saya menekan tuas saya mendapat makanan
Sebagai akibatnya jumlah penekanan tuas meningkat
Penguatan positif.

3. Kemudian alat pemberi makanan diputuskan hubungannya, tetap tikus tetap memencet tuas untuk berapa lama. Tikus mengalami pengondisian operan
4. Pemencetan tuas akan terus berlanjut bila kadang-kadang diberikan - bila penguatan sebagian (partia reinforcement ) diberikan. Skinner meneliti jenis lain dari penguatan sebagian, untuk melihat man yang paling efektif.


Jadwal Penguatan Sebagian
Skinner mempelajari empat macam situasi. Pil makanan diberikan:
1. Interval Tetap (IT) – misalnya setiap 1 menit.
2. Interval Berubah (IB) – misalnya setiap jarak waktu yang berubah-ubah, rata-rata setiap 1 menit.
3. Rasio Tetap (RT) – misal setiap 20 kali pencetan.
4. Rasio Berubah (RB) – misalnya setiap jumlah pencetan yang berubah-ubah, rata-rata setiap 20 kali pencetan.

Rasio Tetap menyebabkan respons yang lebih cepat daripada Interval Tetap.
Ini tidak mengejutkan: Inilah dasar dari sistem upah kerja menurut jumlah barang yang dihasilkan.
Orang biasanya bekerja lebih keras ketika dibayar untuk setiap barang yang dihasilkannya.
Rasio Berubah adalah yang “paling kuat” pengaruhnya – respons terus berlanjut paling lama sebelum berhenti, contohnya ada merpati berespons, ribuan kali tanpa adanya penguatan.

Waktu antara Respons dan Penguatan
Skinner menemukan bahwa waktu optimal antara respons dan penguatan adalah sekitar setengah detik, jadi secepat mungkin. Hal ini sangat penting. Sebagai contoh, jika orangtua ingin memberi hadiah atau hukuman kapada anak, agar efektif. Hal tersebut lansung diberikan.
Tunggu sampai ayahmu pulang!......
Apakah ibu tidak tahu? Skinner mengatakan bahwa penguatan yang ditunda tidaklah efektif!
Hal ini juga merupakan salah satu alasan mengapa hukuman pidana sering tidak bermanfaat. Sebagai contoh, seorang pencuri yang mencuri di satu rumah. Tiga bulan kemudian....polisi menangkapnya. Satu tahun kemudian ia dihukum di pengadilan. Ini terlalu lama! Akan tetapi, menurut Skinner, ini bukanlah satu-satunya alasan mengapa hukuman tidak selalu berhasil.

Mengapa Hukuman Sering Tidak Efektif
1. Secara umum, hukuman menjadi kurang efektif karena terlalu lama dan terlalu sedikit memberi pelajaran. Lebih baik menggunakan kombinasi pemberian hadiah (penguatan positif) dan meniadakan hadiah (tanpa penguatan).

Hadiah lebih efektif daripada hukuman.

2. Hukuman sering menyebabkan orang “menghindari hukuman” daripada menghentikan tingkah laku yang tidak diinginkan.

Sama seperti tikus yang melarikan diri dari hukuman, orang menghindarkan diri dari tertangkap.....

3. Hukuman dapat menyebabkan seseorang mengaitkan hukuman dengan orang yang menghukum, bukan dengan tingkah lakunya.
4. Hukuman mungkin melatih seseorang tentang apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi tidak melatih apa yang harus dilakukan.
Skinner juga menemukan bahwa banyak orang (orangtua, hakim, guru...) memiliki pandangan yang salah tentang definisi hadiah atau hukuman.

Apakah “Hadiah dan Hukuman” Itu?
Skinner menemukan bahwa apa yang dinamakan “hadiah” dapat menimbulkan efek yang berlawanan.
Sebagai hadiah untuk pekerjaan rumahnya yang bagus, Mary akan membaca karangannya untuk kamu semua. Dengar, betapa pintarnya dia!
Sama juga, apa yang dinamakan “hukuman” dapat menimbulkan efek yang berlawanan.
Jimmy, hentikan itu dan kerjakan tugasmu !
Biarkan saja pak, dia hanya mencari perhatian!
Menurut Skinner, setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penguat mana yang akan berfungsi dan mana yang tidak, harus ditemukan dengan cara mencobanya dengan binatang atau manusianya masing-masing.

Mempraktikkan Definisi
Sebelum melakukannya, perlu didefinisikan lebih dahulu istilah penguat positif dan negatif serta hukuman. Karena banyak orang yang salah menggunakan kata “hadiah” dan “hukuman”, maka Skinner mendefinisikan istilah-istilah tersebut:
Penguatan positif adalah saat meningkatnya tingkah laku akibat mendapatkan sesuatu yang menyenangkan (misalnya, pil makanan untuk tikus yang lapar).
Penguatan negatif adalah saat meningkatnya tingkah laku untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan (misalnya, tikus menekan tuas untuk menghindari kejutan listrik ringan).
Hukuman adalah saat menurunnya tingkah laku akibat sesuatu yang tidak menyenangkan.
Jadi kita dapat menghentikan anak yang memukul anak lainnya dengan pemberian kejutan listrik ringan...
Mengapa tidak? Kejutan listrik ringan tidak akan menyebabkan kerusakan Fisiologis-tidak seperti pukulan yang tidak terkendali dan dapat menyebabkan memar! Karena inilah kejutan listrik ringan digunakan pada binatang. Jika hal tersebut berhasil, mengapa tidak digunakan juga untuk anak-anak atau bahkan orang dewasa?

“Anak Bermasalah”
Skinner menyadari bahwa banyak anak yang disebut “bermasalah” atau”nakal”, sebenarnya adalah anak yang aktif, normal, dan sehat, yang sering kali hasil “salah didik”, secara tidak sadar oleh orangtuanya, gurunya dan lain-lain. Sebagai contoh, kecenderungan untuk hanya memperhatikan anak (penguatan positif) bila ia “nakal”, dan tidak memperhatikan ketika ia “baik”.
Bahkan ketika anak selalu “baik” (yang sering hanya berarti ”diam dan tidak aktif”, belum tentu berarti sahat), anak kemudian dapat tumbuh menjadi neurotik – takut melakukan apa pun...
Metode Latihan Tiga Langkah
Menurut Skinner, idealnya semua anak harus dilatih dengan benar sejak awal. (hal inilah yang secara alamiah dilakukan oleh orangtua yang berhasil, baik disadari atau tidak). Skinner membuat suatu sistem yang sederhana : metode tiga langkah yang terbukti efektif baik bagi manusia maupun binatang.
1. Tentukan tujuan (“Perilaku Akhir”)

Membuat anjing menggonggong ketika ia melihat seseorang dari jendela...

2. Tentukan awalnya (“Perilaku Awal”)
3. Berikan penguatan positif pada setiap langkah ke arah yang diinginkan, dan abaikan perilaku lainnya.
Ketika anjing menggonggong, berikan pujian! “Anjing pintar!”, “Bagus!’.
Sebagai contoh, hal ini digunakan untuk melatih anjing penjaga, anjing polisi dan anjing penuntun untuk orang buta. Berdasarkan pada pendekatan yang sederhana dan efektif ini, Skinner menyusun metode untuk mengubah tingkah laku.

Modifikasi Tingkah Laku
Skinner berpendapat bahwa ada anak dan orang dewasa yang tingkah lakunya perlu di ubah agar dapat cocok dengan lingkungannya, agar hidupnya dapat lebih baik. Pada anak-anak, biasanya harus disertai dengan mengubah perilaku orangtuanya, tak hanyamengubah tingkah laku anaknya. Para Psikolog biasanya menolong para orangtua untuk menentukan tipe tingkah laku apa yang diinginkan (langkah pertama) dan apa yang tidak diinginkan (langkah kedua).



YANG DIINGINKAN YANG TIDAK DIINGINKAN
Makan menggunakan alat makan
Meminta dengan sopan
Tidak memaki
Duduk di kursi
Berjalan di koridor
Memuntahkan makanan
Berteriak,”saya mau...”
Memaki
Berdiri di kursi
Berlari di koridor

Kemudian kita harus menentukan langkah yang ketiga. Penguat positif apa yang akan diberikan, tingkah laku apa yang harus diabaikan, dan bila perlu, hukuman apa yang akan diberikan.
Penguat positif: pujian, perhatian, hadiah.
Kata kuncinya adalah konsisten – selalu memperkuat tingkah laku yang sama dengan cara yang sama – dan tegas – mengikuti peraturannya.
Modifikasi tingkah laku juga digunakan pada sebagian pasien sakit mental di rumah sakit. (Termasuk “ekonomi kupon”, yaitu kupon plastik yang diberikan dapat ditukar dengan hadiah dan hak-hak tertentu bagi si pasien).

Sumbangan Skinner di Bidang Pendidikan
“Metode Tiga Langkah” Skinner telah digunakan bukan saja untuk melatih tingkah laku tetapi juga dalam bidang pendidikan secara umum. Guru menentukan apa yang mereka ingin dicapai oleh murid. Mereka membuat suatu Sasaran Tingkah Laku.
Contoh:”Dengan berakhirnya buku ini, maka kamu akan mampu..
- Menguraikan definisi sederhana dari psikologi
- Menggambarkan tiga jenis pekerjaan psikolog
- Membedakan psikologi dengan psikiatri dan sosiologi
- Menyebutkan minimal tujuh psikolog terkenal...dan lain-lain
Catatan: tugas harus dapat di ukur, tidak sama seperti”mengerti”, “mengetahui”, “memahami”...
Menyatakan sasaran juga berguna bagi orang yang ingin menentukan tujuan belajarnya – atau bahkan juga tujuan hidup yang ingin di capai.
Saya percaya bahwa orang yang dapat meningkatkan kehidupannya.
Saya mendorong diri untuk bekerja di pagi dengan musik sore!
Masyarakat dapat berubah menjadi lebih baik (seperti yang digambarkan oleh Skinner dalam novel khayalnya. Walden Two. 1948). Semuanya tergantung kita untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (menurut William James) dan meningkatkan mutu masyarakat melalui pengondisian.
Namun, Skinner bukanlah orang yang terakhir dalam pandangan Behaviorisme. Pendekatan yang “lebih lunak” berkembang yang mempertimbangkan tingkah laku yang muncul tanpa adanya penguat yang jelas.

Behaviorisme dari Watson

|



John B.Watson (1878-1958) menggambungkan pemikiran-pemikiran yang searah dan mengembangkan behaviorisme yang kemudian dituangkan dalam Psychology as the Behaviorist Views It (1913). Dia dengan tekun mempelajari tingkah laku binatang.
Psikologi...adalah cabang ilmu yang menggunakan percobaan secara objektif. Tujuan teoritisnya adalah memperkirakan dan mengendalikan tingkah laku. Intropeksi bukan bagian yang penting dalam metode tersebut.
Tidak semua orang menyukai pandangan baru ini: penentangnya termasuk Titchener dan McDougall. Namun, secara umum Watson sangatlah terkenal. Pendekatan “nurture”-nya yang eksterm – menyangkal keberadaan semua sifat bawaan – cocok dengan pandangan Amerika. Manusia dapat dilatih untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan.

Percobaan Watson
Pendekatan baru dari Watson menolak keberadaan kesadaran. Dia mengatakan bahwa emosi adalah RANGSANGAN lingkungan dan RESPONS dari dalam diri yang dapat diukur. Seperti denyut nadi, pernapasan dan wajah yang memerah.
Watson berpendapat bahwa bayi memiliki tiga emosi dasar.
Takut: disebabkan oleh suara keras, kehilangan dukungan secara tiba-tiba.
Marah: disebabkan oleh pembatasan gerakan tubuh.
Cinta: disebabkan oleh belaian dan timangan.
Emosi lain adalah gabungan ketiga emosi tersebut.
Hasil penelitian Watson yang terkenal (1920) adalah mengenai bayi yang berusia 11 bulan bernama Albert. Di perlihatkan pada bayi itu seekor tikus putih yang tidak ditakutiny. Di belakangnya diperdengarkan suara keras dengan cara memukul batang baja dengan palu.
Rasa takut yang ditimbulkan oleh suara keras menyebabkan rasa takut terkondisikan pada tikus. Albert menggeneralisasikan rasa takut ini dengan rangsangan lain yang mirip, termasuk dengan kelinci, mantel bulu, dan jenggot sinterklas.
Watson berpendapat bahwa rasa takut dan cemas pada manusia biasa berasal dari pengalaman masa kanak-kanak yang mirip.

Jadi Apakah Watson Kemudian Menyembuhkan Albert ?
Tidak. Menurut Watson, Albert sudah tidak bisa ditemuinya. Tak lama setelah berlangsungnya percobaan tersebut, Watson terpaksa berhenti dari kehidupan akademiknya karena terlibat skandal perselingkuhan dengan asistannya. Sejak 1921 Watson bekerja di bidang periklanan.
Saya menghabiskan sisa hidup saya menerapkan Behaviorisme untuk memperkirakan dan mengendalikan tingkah laku konsumen.
Sejak saat itu, psikologi mulai terlibat dalam bidang periklanan....
Buatlah konsumen merasa tidak tidak puas dengan apa yang mereka miliki...dan buatlah mereka menginginkan produk yang baru !

Etika
Kita tidak tahu apa yang kemudian terjadi sama Albert, tetapi kasus ini merupakan satu dari sekian banyak alasan mengapa sekarang ada aturan etika ketat yang tidak mengizinkan dilakukannya percobaannya seperti itu lagi ! Dan menariknya, bahkan sebelum kode etik dibuat pada 1950-an, belum pernah ada percobaan yang berhasil meniru penelitian Watson!


Peter dan Kelinci
Namun, dapat juga di ambil beberapa manfaat dari percobaan tersebut. Mary Cover Jones (1896-1987), yang mendengar kasus Albert, berhasil melakukan pengondisian hialngnya rasa takut terhadap seekor kelinci yang diderita seorang anak laki-laki bernama Peter (Jones, 1924).
Saya melakukannya dengan cara meletakkan seekor kelinci semakin dekat dengan Peter secara bertahap setiap kali dia makan, sampai dia berani memegang kelinci tersebut tanpa merasa takut.
Harus saya akui, saya tidak lagi takut kepada anak laki-laki seperti dahulu.
“Peter” adalah kasus pertama terapi tingkah laku (desensitization atau pengurangan) yang terdokumentasi, dan beberapa tahun sebelum terapi ini populer!
Watson berpendapat bahwa dengan membiasakan gerak refleks, seperti mengendalikan emosi, dan dengan membentuk tingkah laku secara umum, masyarakat yang lebih baik akan dapat terwujud. (Watson, 1930).
“Karena dunia akan berubah apabila Anda mendorong anak-anak untuk bebas bertimgkah laku...bukankah anak-anak tersebut, dengan cara berpikir dan cara hidup yang lebih baik, akan menggantikan kita sebagai masyarakat baru? Dan bukankah mereka akan membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang lebih ilmiah, sampai akhirnya dunia menjadi tempat tinggal yang baik bagi manusia?”
Pandangan Behaviorisme dari Watson dikembangkan pada 1930 dan 1940-an oleh beberapa tokoh: Tolman, Guthrie, Hull, dan – yang paling terkenal – Skinner

Paedofilia

|



Perangsangan seksual yang menggunakan anak-anak. Pada umumnya hal ini melanggar hukum (ada berbagai definisi mengenai usia dewasa, di Spanyol dan Belanda batasnya adalah usia 12 tahun).
Penderita paedofilia dapat disembuhkan dengan mengkombinasikan beberapi terapi, termasuk terapi pengurangan dan perlawanan kebiasaan

 

©2009 Insight Community | Template Blue by TNB