
Pesta Demokrasi tanggal 8 Juli 2009 tinggal tiga hari lagi, hari bersejarah Indonesia kan dimulai. Berbagai profil, sejarah bahkan debat pun sudah dilakoni oleh para kandidat orang nomer satu di Negara Loh jinawai ini untuk menarik pendukung sebanyak-banyaknya.
Segala persiapan hari pencontrengan sudah di usahakan KPU. Dari kotak suara, surat suara sampai hari tenang menjelang pencontrengan dengan pembersihan baleho, spanduk, poster yang di pasang di jalan-jalan hingga iklan di media cetak maupun elektronik yang dimulai sejak Minggu pukul 00.00 WIB.
Dengn segala persiapan yang sudah matang ini penulis optimis pemilu kan berjalan dengan lancar namun masih ada yang mengganjal di hati dengan bahaya Politik uang menjelang pencontrengan yang familiar di sebut serangn Fajar. Dengan membagikan uang secara cuma-cuma kepada calon pemilih agar sang calon pemilih memilih calon yang membagikan uang tersebut.
Kita juga bisa berucap serangn fajar sah-sah saja karena ini merupakan strategi bagaimana kita bisa memenangkan suatu pertandingan khususnya pertandingan pengambilan simpatik terbanyak. Dengan memanfaatkan kondisi sebagian masyarakat yang kurang cerdas yang akan diam dan bengong jikalau melihat duit, karena itulah kenyataan kebutuhan yang sangat diperlukan oleh masyarakat kita ini.dan pada akhirnya masyarakat pun memilih siapa yang berani membayar dia.
Jikalau penulis mendapatkan situasi, disodori uang serangan fajar, penulis juga akan menerima duit itu , lumayan bisa buat uang jajan, dinikmatin aja namun penulis mau berpikir cerdas sedikit , mungkin tangan penulis menerima duit tadi namun hati penulis langsung menolak memilih sang pemberi serangan fajar tadi kerena kurang bersih bermainnya pasti suatu waktu dia menagih dengan menginginkan BEP (Break Event Point) alias modal nya kembali dengan cara Korupsi dll.. Enaknya ambil uangnya saja jangan dipilih biar sang calon kotor itu rugi dobel. Lebih baik memilih yng bersih-bersih saja dengan keyakinan awal yang positip akhir pun kan positip.
Ayo.. ingin duit banyak? Manfaatkan momentum serangan Fajar, ^_^.
Selamat Mencontreng
Pengin Banyak Duit? Manfaatkan Peluang Serangan Fajar.....
Label: Politik | author: Insight CommunityMenolak "Lipstik Partai Politik" dalam Wajah Kampanye.
Label: Politik | author: Insight Community
Oleh Abd. Tsabit SPsi..
Genderang kampanye terbuka pemilu 2009 sudah ditabuh, seluruh partai politik serentak berbenah untuk melakukan strategi terbaik di dalam menarik masa sebanyak-banyaknya. Dalam sebuah hajatan demokrasi (kampanye pemilu), seluruh masyarakat selalu ditempatkan sebagai pihak penikmat dan penyimak pertunjukkan dari aksi-aksi yang ditampilkan partai politik, oleh sebab itu partai politik dituntut harus menampilkan sosok paras dan wajah yang anggun, menawan dan memikat hati. Daya pikatnya pun unik dan mampu membuat masyarakat mabuk kepayang, yakni dengan selalu menawarkan perubahan, perbaikan, kesejahteraan, serta jaminan masa depan yang lebih baik. Padahal dibalik itu semua adalah hanya "lipstick" partai politik semata yang dengan sengaja dilakukan supaya paras wajah kampanye mereka mempesona dan masyarakat banyak yang jatuh hati dengannya.
Dewasa ini masyarakat kita sudah banyak belajar dari pengalaman kampanye-kampanye sebelumnya, dari sini rupanya mereka sudah banyak makan garam dan telah menjadi lebih cerdas daripada pemilu sebelumnya. Masyarakat kita sudah terlampau jenuh dengan rayuan dan janji-janji partai politik yang cenderung mengibuli dan tidak mencerdaskan, malah justru dengan rayuan dan janji-janji partai politik tadi menjadi biang hilangnya kredibilitas mereka di saat mereka terpilih, dan hal yang membahayakan lagi adalah ketika stigma masyarakat muncul akibat mosi tidak percaya sehingga mereka memboikot tidak berpartisipasi dalam pemilu (golput), maka partai politik seharusnya lebih berpikir panjang mengenai dampak dari apa yang telah mereka lakukan dalam setiap kampanyenya, tidak hanya untuk memikirkan kepentingan mereka sesaat tetapi lebih jauh harus memikirkan bagaimana bangsa ini ke depan punya kredibiltas, martabat dan harga diri, karena setiap bangsa dimanapun selalu melahirkan generasi berikutnya. Jika hal ini terus terjadi maka bisa dibayangkan bangsa kita akan terus selalu berada dalam lingkaran pembodohan dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan. Selain Itu seharusnya partai poltik juga harus membuat kontrak politik dengan bermateraikan suara hati untuk selalu berpegang kepada janji dan komitmen dan mereka siap diawasi atau dimonitoring secara berkala oleh masyarakat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas dan berpotensi besar untuk maju. Partai politik yang sejati adalah partai politik yang mencetak figur-figur pejabat yang berdedikasi tinggi dan cinta negeri, figur-figur yang memang benar-benar memikirkan kemajuan bangsa dan negara serta figur pemimpin yang tidak menganggap bangsanya bodoh dan tidak pula membiarkan kebodohan ada di tengah masyarakat.